Kenapa Kita Selalu Merasa Kurang? (FOMO vs Qana'ah Menurut Gus Baha)
Pernahkah Anda memperhatikan satu hal?
Dulu…
kita pernah berdoa agar memiliki pekerjaan.
Ketika pekerjaan itu akhirnya didapat…
beberapa bulan kemudian muncul keinginan baru.
Ingin gaji lebih besar.
Ingin jabatan lebih tinggi.
Ingin rumah yang lebih luas.
Ingin kendaraan yang lebih bagus.
Keinginan demi keinginan terus bermunculan.
Anehya…
setiap kali satu impian tercapai, hati hanya tenang sebentar.
Lalu kembali merasa kurang.
Kalau begitu…
apakah yang sebenarnya sedang kita cari?
Apakah kita benar-benar kekurangan?
Atau jangan-jangan hati kita sudah terbiasa merasa kurang?
💭 Merasa Kurang Tidak Selalu Berarti Kekurangan
Ada orang yang penghasilannya sederhana…
tetapi wajahnya selalu tenang.
Ada pula yang hartanya terus bertambah…
namun pikirannya selalu gelisah.
Artinya, rasa cukup tidak selalu ditentukan oleh jumlah yang dimiliki.
Sering kali, yang menentukan adalah cara kita memandang nikmat.
Kalau ukuran kebahagiaan selalu berpindah…
maka rasa cukup juga akan terus menjauh.
Hari ini ingin memiliki motor.
Besok ingin mobil.
Lusa ingin mobil yang lebih mahal.
Setelah itu rumah.
Kemudian investasi.
Lalu membandingkan lagi dengan orang lain.
Tidak ada akhirnya.
📱 FOMO Membuat Kita Selalu Merasa Tertinggal
Di zaman sekarang, ada satu istilah yang sangat populer.
FOMO (Fear of Missing Out).
Sederhananya, FOMO adalah rasa takut tertinggal dari orang lain.
Takut tidak mengikuti tren.
Takut tidak memiliki apa yang dimiliki teman.
Takut dianggap kurang berhasil.
Takut menjadi satu-satunya yang belum mencapai sesuatu.
Masalahnya…
FOMO tidak pernah memberikan garis akhir.
Begitu satu keinginan terpenuhi…
ia langsung menciptakan keinginan berikutnya.
Akibatnya, hati terus berlari.
Tetapi tidak pernah benar-benar sampai.
Pembahasan mengenai bagaimana media sosial memperkuat kebiasaan membandingkan diri juga dapat Anda baca pada artikel “Kenapa Media Sosial Membuat Kita Mudah Membandingkan Hidup?”, karena salah satu bahan bakar terbesar FOMO adalah kebiasaan melihat potongan terbaik kehidupan orang lain setiap hari.
🌱 Kita Tidak Lagi Menghitung Nikmat…
Tetapi Menghitung Kekurangan
Coba renungkan.
Berapa kali dalam sehari kita menghitung nikmat yang sudah Allah berikan?
Dan berapa kali kita menghitung apa yang belum dimiliki?
Sering kali jawabannya sangat berbeda.
Kita lebih mudah melihat apa yang kurang.
Padahal nikmat yang telah dimiliki jauh lebih banyak.
Masih bisa bernapas.
Masih memiliki keluarga.
Masih diberi kesehatan.
Masih diberi kesempatan bertobat.
Masih memiliki pekerjaan.
Masih memiliki teman.
Semua itu perlahan menjadi sesuatu yang dianggap biasa.
Padahal dahulu…
semuanya pernah menjadi doa.
💡 Mengapa Keinginan Tidak Pernah Selesai?
Karena keinginan memang tidak diciptakan untuk berhenti dengan sendirinya.
Kalau hati tidak belajar mengendalikannya…
ia akan terus meminta.
Hari ini satu.
Besok dua.
Lusa tiga.
Dan semakin banyak yang dimiliki…
belum tentu semakin banyak rasa syukur.
Justru kadang semakin banyak yang dimiliki…
semakin banyak pula yang dikhawatirkan.
Takut kehilangan.
Takut kalah.
Takut tertinggal.
Takut tidak lagi dianggap berhasil.
Di sinilah letak perbedaan antara mengejar rezeki dan dikuasai oleh keinginan.
Islam tidak pernah melarang seseorang menjadi kaya.
Namun Islam juga mengajarkan agar hati tidak diperbudak oleh apa yang dimiliki.
📖 Gus Baha Mengajarkan Qana’ah Bukan Berarti Berhenti Berusaha
Dalam berbagai pengajian, Gus Baha sering menjelaskan bahwa qana’ah bukan berarti pasrah tanpa ikhtiar.
Bukan pula berarti menolak rezeki yang Allah berikan.
Qana’ah adalah kemampuan hati untuk tetap tenang ketika Allah memberikan sesuatu sesuai kadar yang telah Dia tetapkan.
Seseorang tetap bekerja.
Tetap belajar.
Tetap berdagang.
Tetap berusaha meningkatkan kualitas hidup.
Namun semua itu dilakukan tanpa kehilangan rasa syukur.
Karena ukuran kebahagiaannya bukan terletak pada apakah ia lebih kaya daripada orang lain.
Melainkan apakah ia semakin dekat kepada Allah.
Pembahasan tentang mengapa hati tetap gelisah meskipun rezeki sebenarnya sudah cukup juga dapat Anda baca pada artikel “Kenapa Hidup Tidak Tenang Padahal Rezeki Cukup? Begini Cara Gus Baha Melihatnya.” Di sana dijelaskan bahwa kegelisahan sering kali tidak berasal dari sedikitnya harta, melainkan dari cara hati memandang nikmat yang telah dimiliki.
🌿 Barangkali Kita Tidak Sedang Kekurangan Rezeki…
Tetapi Sedang Kekurangan Rasa Cukup
Kalau dipikir-pikir…
mengapa dahulu kita bisa sangat bahagia hanya dengan hal-hal sederhana?
Mengapa sekarang, ketika banyak doa telah dikabulkan…
justru hati lebih mudah gelisah?
Mungkin bukan karena Allah mengurangi nikmat.
Tetapi karena kita terlalu sering melihat apa yang belum ada…
hingga lupa mensyukuri apa yang sudah ada.
Dan di situlah FOMO bekerja dengan sangat halus.
Ia tidak mengambil harta kita.
Ia mengambil rasa cukup.
Ia membuat nikmat yang besar terasa kecil.
Ia membuat hati terus berkata,
“Sedikit lagi…”
Padahal mungkin…
yang kita perlukan bukan tambahan harta terlebih dahulu.
Melainkan tambahan rasa syukur.
🌿 Qana’ah Membuat Hati Berhenti Berlomba
Salah satu hal yang paling melelahkan di zaman sekarang adalah merasa harus selalu mengejar.
Mengejar penghasilan.
Mengejar pengakuan.
Mengejar gaya hidup.
Mengejar pencapaian.
Padahal perlombaan itu hampir tidak pernah memiliki garis akhir.
Selalu ada orang yang lebih kaya.
Lebih terkenal.
Lebih pintar.
Lebih sukses.
Kalau kebahagiaan kita bergantung pada posisi dibandingkan orang lain…
maka hati akan terus merasa tertinggal.
Di sinilah qana’ah mengubah cara pandang seseorang.
Qana’ah tidak membuat seseorang berhenti bekerja.
Tetapi membuatnya berhenti menjadikan kehidupan orang lain sebagai ukuran kebahagiaannya.
💡 Bersyukur Bukan Berarti Berhenti Bermimpi
Ada yang salah memahami qana’ah.
Seolah-olah orang yang qana’ah tidak boleh memiliki cita-cita.
Tidak boleh ingin hidup lebih baik.
Padahal bukan itu maksudnya.
Islam justru mendorong umatnya bekerja, berdagang, belajar, dan berusaha sebaik mungkin.
Yang dibenahi adalah posisi hati.
Seseorang boleh memiliki target.
Boleh meningkatkan kualitas hidup.
Boleh membangun usaha.
Namun ketika hasilnya belum sesuai harapan…
ia tidak kehilangan ketenangan.
Karena ia yakin bahwa Allah lebih mengetahui waktu terbaik untuk setiap rezeki.
Inilah perbedaan antara orang yang dikuasai ambisi dan orang yang dipandu qana’ah.
Yang satu mengejar dunia agar hatinya tenang.
Yang lain menenangkan hati agar mampu menjalani usaha dengan lebih baik.
📖 Gus Baha Mengajarkan Agar Nikmat Tidak Diukur dari Banyaknya Harta
Dalam berbagai pengajian, Gus Baha sering mengingatkan bahwa kebahagiaan bukan hanya soal bertambahnya harta.
Beliau mengajak kita melihat bagaimana Allah membagi rezeki kepada setiap hamba dengan cara yang berbeda.
Ada yang diberi kelapangan ekonomi.
Ada yang diberi kesehatan.
Ada yang diberi keluarga yang harmonis.
Ada yang diberi kesempatan menuntut ilmu.
Ada yang diberi hati yang mudah bersyukur.
Semuanya adalah rezeki.
Karena itu, seseorang yang hanya menghitung uang sering kali merasa hidupnya kurang.
Sebaliknya, orang yang menghitung seluruh nikmat Allah akan menemukan begitu banyak alasan untuk bersyukur.
Pembahasan ini juga berkaitan dengan artikel “Kenapa Kita Sulit Merasa Cukup di Era Sekarang? Gus Baha Pernah Menyinggung Hal Ini”, yang menjelaskan bagaimana perubahan cara pandang dapat membuat hati jauh lebih tenang meskipun keadaan belum berubah.
🌱 Jangan Biarkan FOMO Merampas Nikmat Hari Ini
FOMO memiliki satu kebiasaan.
Ia selalu mengajak kita hidup di tempat yang tidak kita miliki.
Kalau sedang bekerja…
kita sibuk memikirkan jabatan berikutnya.
Kalau sudah memiliki rumah…
kita sibuk melihat rumah orang lain.
Kalau sudah membeli kendaraan…
kita mulai melihat kendaraan yang lebih mahal.
Akhirnya, kita jarang menikmati apa yang sedang Allah titipkan hari ini.
Padahal kebahagiaan tidak hanya lahir karena memiliki lebih banyak.
Tetapi juga karena mampu menikmati apa yang sudah ada.
Barangkali itulah sebabnya orang yang sederhana bisa tampak sangat damai.
Bukan karena hidupnya tanpa masalah.
Melainkan karena ia tidak membiarkan keinginannya mengalahkan rasa syukurnya.
❤️ Refleksi
Coba renungkan sejenak.
Kalau hari ini Allah mengabulkan seluruh keinginan kita…
apakah hati akan benar-benar berhenti merasa kurang?
Ataukah akan muncul daftar keinginan yang baru?
Mungkin selama ini masalahnya bukan terletak pada sedikitnya nikmat.
Tetapi pada kebiasaan hati yang selalu melihat ke atas.
Padahal Rasulullah ﷺ mengajarkan agar dalam urusan dunia kita juga melihat kepada mereka yang berada di bawah kita, sehingga kita lebih mudah mensyukuri nikmat Allah.
Barangkali inilah yang ingin diajarkan Gus Baha.
Qana’ah bukan membuat kita berhenti melangkah.
Qana’ah membuat kita melangkah tanpa kehilangan ketenangan.
Tetap bekerja keras.
Tetap memperbaiki diri.
Tetap memiliki cita-cita.
Namun hati tidak lagi gelisah ketika melihat keberhasilan orang lain.
Karena kita sadar…
Allah tidak sedang menguji semua hamba dengan soal yang sama.
Setiap orang memiliki perjalanan, rezeki, dan waktu yang berbeda.
Mungkin…
kekayaan terbesar bukanlah ketika semua keinginan terpenuhi.
Melainkan ketika hati mampu berkata,
“Ya Allah, apa yang Engkau titipkan hari ini sudah cukup membuatku bersyukur, dan aku akan tetap berusaha dengan cara yang Engkau ridhai.”
Di situlah FOMO perlahan kehilangan kekuatannya.
Dan qana’ah mulai menghadirkan ketenangan yang selama ini kita cari.
📌 Catatan
Artikel ini merupakan pengembangan pembelajaran berdasarkan nilai-nilai yang sering disampaikan KH. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) mengenai qana’ah, syukur, rezeki, dan cara memandang kehidupan dengan lebih tenang. Artikel disusun agar relevan dengan tantangan kehidupan modern tanpa dimaksudkan sebagai transkrip kata demi kata. Untuk memperoleh pemahaman yang lebih utuh, pembaca tetap dianjurkan mengikuti pengajian Gus Baha secara langsung maupun mendengarkan rekaman kajian secara lengkap.
📚 Baca Juga
Jika Anda ingin memahami konsep qana’ah secara lebih utuh, lanjutkan membaca artikel berikut:
- Apa Itu Qana’ah dalam Islam? Cara Hidup Tenang Menurut Gus Baha
- Cara Hidup Sederhana Menurut Gus Baha (Agar Hati Tenang di Tengah Tekanan Hidup)
- Kenapa Hidup Tidak Tenang Padahal Rezeki Cukup? Begini Cara Gus Baha Melihatnya
- Kenapa Kita Sulit Merasa Cukup di Era Sekarang? Gus Baha Pernah Menyinggung Hal Ini
- Kenapa Semakin Banyak Keinginan Justru Membuat Hati Gelisah?
Kelima artikel tersebut saling melengkapi untuk membantu memahami bahwa ketenangan hidup tidak hanya ditentukan oleh besarnya rezeki, tetapi juga oleh cara kita memandang nikmat, mengelola keinginan, dan menumbuhkan qana’ah dalam kehidupan sehari-hari.
💬 Bagaimana Menurut Anda?
Pernahkah Anda merasa kurang, padahal jika dipikir kembali Allah telah memberikan begitu banyak nikmat?
Menurut Anda, apa yang paling sering memicu rasa FOMO: media sosial, lingkungan pertemanan, tekanan pekerjaan, atau keinginan dalam diri sendiri?
Silakan bagikan pengalaman atau pendapat Anda di kolom komentar. Semoga dapat menjadi ruang saling mengingatkan untuk lebih banyak bersyukur dan lebih sedikit membandingkan hidup.
📲 Bagikan Agar Menjadi Pengingat
Jika artikel ini bermanfaat, bagikan kepada keluarga, sahabat, atau rekan kerja. Mungkin ada seseorang yang sedang lelah mengejar banyak hal, padahal yang paling ia butuhkan saat ini adalah mengembalikan rasa syukur dan qana’ah dalam hatinya.
🌿 Ikuti Ngaji Virtual Gus Baha
Masih banyak pembahasan tentang qana’ah, rezeki, akhlak, keluarga, tafsir Al-Qur’an, dan hikmah kehidupan yang disusun berdasarkan kajian-kajian Gus Baha.
Ikuti Ngaji Virtual Gus Baha melalui website, WhatsApp Channel, Facebook, Instagram, YouTube, serta berbagai platform podcast untuk mendapatkan artikel terbaru, ringkasan kajian, jadwal pengajian, dan arsip Audio MP3 yang terus diperbarui.
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang pandai bersyukur, diberikan hati yang qana’ah, dilapangkan rezekinya dengan cara yang halal dan berkah, serta dijauhkan dari kegelisahan karena terus membandingkan diri dengan kehidupan orang lain.
Aamiin ya Rabbal ’aalamiin.
🏷️ Topik Terkait

Gabung dalam percakapan