Mengapa Jibril Menyimak Bacaan Al-Qur’an Nabi Setiap Ramadan? Materi Kajian Shahih Bukhari Gus Baha
Dalam lanjutan kajian Shahih Bukhari yang akan dibaca Gus Baha (jadwal cek di sini), terdapat pembahasan menarik dalam Kitab Fadhailul Qur’an mengenai hubungan Rasulullah ﷺ dengan Al-Qur’an.
Salah satu hadis yang tercantum dalam naskah kajian menjelaskan bahwa Malaikat Jibril datang kepada Rasulullah ﷺ setiap bulan Ramadan untuk menyimak bacaan Al-Qur’an beliau.
Sekilas, hadis ini terlihat sederhana. Namun jika direnungkan lebih dalam, terdapat pelajaran besar tentang bagaimana Islam menjaga ilmu, menjaga Al-Qur’an, dan menjaga tradisi belajar yang benar.
Karena itu, pembahasan ini bukan hanya relevan bagi para penghafal Al-Qur’an, tetapi juga bagi siapa saja yang sedang belajar agama.
📝 Jibril dan Rasulullah ﷺ Mengulang Bacaan Al-Qur’an
Dalam riwayat yang dibaca, Sayyidah Aisyah رضي الله عنها menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ didatangi Jibril setiap tahun pada bulan Ramadan.
Pada pertemuan tersebut, Rasulullah ﷺ membacakan Al-Qur’an dan Jibril menyimaknya. Bahkan pada tahun terakhir sebelum wafatnya Rasulullah ﷺ, proses tersebut dilakukan sebanyak dua kali.
Hal ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak hanya dijaga melalui tulisan, tetapi juga melalui bacaan yang terus diperiksa dan dikoreksi.
Karena itu, sejak awal Islam, tradisi belajar Al-Qur’an selalu melibatkan guru dan murid.
📝 Mengapa Rasulullah ﷺ Tetap Disimak oleh Jibril?
Muncul pertanyaan menarik.
Bukankah Rasulullah ﷺ menerima wahyu secara langsung? Mengapa masih ada proses penyimakan oleh Jibril?
Di sinilah letak pelajaran pentingnya.
Islam mengajarkan bahwa ilmu harus dijaga dengan ketelitian.
Meskipun Rasulullah ﷺ adalah manusia paling mulia, tetap ada proses murajaah, pengulangan, dan penyimakan.
Ini mengajarkan bahwa semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin besar kesungguhannya dalam menjaga ilmu tersebut.
📝 Tradisi Talaqqi yang Masih Hidup di Pesantren
Hadis ini juga menjadi salah satu dasar penting dalam tradisi talaqqi yang hingga hari ini masih hidup di pesantren.
Seorang santri tidak cukup hanya membaca kitab sendiri. Seorang penghafal Al-Qur’an tidak cukup hanya menghafal sendiri.
Mereka tetap membutuhkan guru yang mendengar, mengoreksi, dan membimbing.
Karena ilmu agama bukan hanya soal informasi,
" tetapi juga soal transmisi ilmu yang benar dari generasi ke generasi."
🔗 Dalam banyak kesempatan, Gus Baha sering menjelaskan pentingnya sanad dan guru dalam menjaga pemahaman agama agar tidak mudah keliru.
___ 📌 👉 Baca juga: Kenapa Belajar Agama Harus Punya Sanad? Ini Nasihat Gus Baha
📝 Al-Qur’an dan Kedermawanan Rasulullah ﷺ
Dalam hadis berikutnya, diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling dermawan.
Namun ketika Ramadan tiba dan Jibril datang menyimak Al-Qur’an beliau, kedermawanan Rasulullah ﷺ menjadi semakin besar.
Dalam hadis tersebut digambarkan bahwa kemurahan beliau lebih cepat daripada angin yang berhembus.
Pelajaran yang bisa diambil sangat menarik.
Semakin dekat seseorang dengan Al-Qur’an, seharusnya semakin baik pula akhlaknya,
" karena tujuan Al-Qur’an bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga memperbaiki hati dan perilaku."
📝 Para Sahabat Ahli Al-Qur’an
Pada bagian selanjutnya, hadis-hadis yang dibaca menyebut beberapa sahabat yang menjadi rujukan dalam ilmu Al-Qur’an.
Di antaranya:
- ✅ Abdullah bin Mas’ud
- ✅ Ubay bin Ka’ab
- ✅ Mu’adz bin Jabal
- ✅ Zaid bin Tsabit
Nama-nama tersebut bukan dipilih secara kebetulan. Mereka adalah sahabat yang dikenal memiliki kedalaman ilmu, ketelitian dalam membaca Al-Qur’an, dan kedekatan dengan Rasulullah ﷺ. Melalui mereka, ilmu Al-Qur’an diwariskan kepada generasi berikutnya.
📝 Keistimewaan Abdullah bin Mas’ud
Dalam naskah kajian juga terdapat riwayat yang menunjukkan kedudukan Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه. Beliau termasuk sahabat yang sangat memahami Al-Qur’an.
Bahkan beliau pernah mengatakan bahwa hampir tidak ada ayat yang turun kecuali beliau mengetahui di mana dan dalam keadaan apa ayat tersebut diturunkan.
Pernyataan tersebut bukan bentuk kesombongan.
Melainkan gambaran betapa seriusnya para sahabat dalam mempelajari Al-Qur’an.
Mereka tidak hanya membaca. Mereka memahami konteks, sebab turun ayat, dan bagaimana mengamalkannya dalam kehidupan.
📝 Ilmu Tidak Datang Secara Instan
Jika memperhatikan hadis-hadis dalam bab ini, ada satu pesan besar yang terasa sangat relevan dengan zaman sekarang. Yaitu bahwa :
- ilmu agama tidak diperoleh secara instan.
- Para sahabat belajar langsung kepada Rasulullah ﷺ.
- Mereka menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk memahami Al-Qur’an.
Karena itu, tradisi belajar melalui guru dan sanad tetap memiliki kedudukan penting hingga hari ini.
Di era media sosial, seseorang bisa memperoleh informasi dalam hitungan detik. Namun,
" pemahaman yang mendalam tetap membutuhkan proses yang panjang."
🔗 Salah satu penyebab munculnya kesalahpahaman dalam agama adalah keinginan mendapatkan ilmu secara cepat tanpa melalui proses belajar yang benar.
___ 📌 👉 Baca juga: Apa Itu Ahlussunnah Wal Jamaah? Begini Gus Baha Menjelaskannya
📝 Apa Pelajaran yang Bisa Kita Ambil?
Hadis-hadis dalam Kitab Fadhailul Qur’an tidak hanya bercerita tentang masa lalu.
Ia juga mengingatkan kita tentang beberapa hal penting:
- Pentingnya menjaga hubungan dengan Al-Qur’an.
- Pentingnya belajar kepada guru yang memiliki sanad ilmu.
- Pentingnya mengulang dan memeriksa kembali ilmu yang telah dipelajari.
- Pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber akhlak dan kebaikan.
Karena semakin dekat seseorang dengan Al-Qur’an, seharusnya semakin baik pula hubungannya dengan Allah dan sesama manusia.
📶 Refleksi yang Perlu Kita Renungkan
Coba bertanya kepada diri sendiri.
- Sudahkah kita meluangkan waktu untuk membaca Al-Qur’an secara rutin?
- Sudahkah kita belajar kepada guru yang jelas ilmunya?
- Dan sudahkah Al-Qur’an memengaruhi cara kita memperlakukan orang lain?
Karena ukuran kedekatan dengan Al-Qur’an bukan hanya banyaknya bacaan,
" tetapi juga sejauh mana Al-Qur’an mengubah hati dan perilaku kita."
___ 📌 👉 Baca juga: Ngaji Bareng Gus Baha di UII: Peluncuran Ulang Al-Qur’an dan Terjemahan Artinya
🌙 PENUTUP (HIKMAH)
Hadis-hadis yang akan dibaca dalam kajian Shahih Bukhari ini menunjukkan bagaimana Rasulullah ﷺ menjaga hubungan yang sangat dekat dengan Al-Qur’an.
Melalui proses penyimakan oleh Jibril, keteladanan para sahabat, dan tradisi sanad ilmu, umat Islam diajarkan bahwa ilmu harus dijaga dengan sungguh-sungguh.
Karena Al-Qur’an bukan sekadar untuk dibaca,
" tetapi untuk dipelajari, dipahami, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari."
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mencintai Al-Qur’an, menghormati para ulama, dan terus menjaga tradisi ilmu yang diwariskan oleh Rasulullah ﷺ. []
🔥
Al-Qur’an tidak hanya dijaga dengan hafalan,
" tetapi juga melalui sanad, guru, dan tradisi ilmu yang diwariskan dari generasi ke generasi."
📖 Lanjutkan membaca:
Apa Itu Sanad dalam Keilmuan Islam? Penjelasan Sederhana Gus Bahai
💬 Menurutmu, di era media sosial seperti sekarang, apakah tradisi belajar langsung kepada guru masih penting? Tuliskan pendapatmu di kolom komentar.
📤 Jika artikel ini bermanfaat, silakan bagikan kepada keluarga, sahabat, dan rekan yang sedang belajar Al-Qur’an.
🔗 Ikuti Ngaji Virtual Gus Baha dapatkan berbagai kajian rutinan kitab salaf bersama beliau, hikmah kehidupan, sanad ilmu, dan refleksi Islam yang relevan dengan kehidupan modern.
🏷️ Topik Terkait

Gabung dalam percakapan