Jadwal Ngaji Shahih Bukhari Gus Baha di Masjid Al-Aqsha Menara Kudus (Jum’at Kliwon, 3 April 2026)

Jadwal Ngaji Shahih Bukhari Gus Baha di Menara Kudus serta ringkasan materi Bab Jam’ul Qur’an dan pentingnya sanad ilmu.

Alhamdulillah, salah satu kajian rutin yang selalu dinantikan para pecinta ilmu kembali digelar di Masjid Al-Aqsha Menara Kudus. Pada kesempatan kali ini, KH. Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang lebih dikenal dengan Gus Baha kembali melanjutkan kajian Kitab Shahih Bukhari.


Kajian ini menjadi salah satu majelis ilmu yang istimewa karena tidak hanya membahas hadis-hadis Shahih Bukhari secara tekstual, tetapi juga menghadirkan penjelasan yang mendalam, kontekstual, dan mudah dipahami oleh masyarakat umum.

Bagi banyak jamaah, pengajian Gus Baha bukan sekadar belajar ilmu agama. Lebih dari itu, kajian beliau sering menjadi tempat untuk mendapatkan ketenangan, cara pandang yang lebih lapang, dan pemahaman Islam yang penuh hikmah.


🗓 JADWAL NGAJI

Kitab: Shahih Bukhari

Pengasuh: KH. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha)

Hari: Jum’at Kliwon, 3 April 2026

Waktu: Pukul 13.30 WIB (Ba’da Shalat Jum’at)

Tempat: Masjid Al-Aqsha Menara Kudus

Terbuka untuk: Jamaah putra dan putri


📖 Materi Kajian: Bab Jam’ul Qur’an (Pengumpulan Al-Qur’an)

Pada pertemuan kali ini, pembahasan memasuki salah satu bab yang sangat penting dalam Shahih Bukhari, yaitu Bab Jam’ul Qur’an atau bab tentang pengumpulan Al-Qur’an.


Materi ini membahas bagaimana Al-Qur’an dijaga, dikumpulkan, dan diwariskan kepada umat Islam hingga sampai kepada kita hari ini.

Bagi sebagian orang, pembahasan seperti ini mungkin terdengar sangat historis. Namun sebenarnya, tema ini memiliki hubungan yang sangat dekat dengan kehidupan umat Islam saat ini.

Karena ketika seseorang membaca Al-Qur’an hari ini, muncul pertanyaan penting:

👉 Bagaimana proses Al-Qur’an bisa sampai kepada kita?

👉 Siapa yang mengumpulkannya?

👉 Mengapa para sahabat merasa perlu melakukan hal itu?

Bab inilah yang menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.


📝 Awal Mula Pengumpulan Al-Qur’an

Dalam hadis yang dibahas pada bab ini, diceritakan bahwa setelah wafatnya Rasulullah ﷺ terjadi beberapa peperangan melawan kaum murtad.

Salah satu yang paling terkenal adalah Perang Yamamah.

Pada peperangan tersebut, banyak para penghafal Al-Qur’an (huffazh) yang gugur.

Kondisi ini membuat Sayyidina Umar bin Khattab merasa khawatir.

Beliau melihat bahwa jika para penghafal Al-Qur’an terus berkurang akibat peperangan, maka dikhawatirkan sebagian bacaan Al-Qur’an akan hilang bersama wafatnya para penghafal tersebut.

Karena itulah Umar mengusulkan kepada Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq agar Al-Qur’an dikumpulkan dalam satu mushaf.


📝 Abu Bakar Awalnya Tidak Langsung Setuju

Yang menarik, Abu Bakar sempat merasa berat menerima usulan tersebut.

Beliau berkata bahwa Rasulullah ﷺ tidak pernah memerintahkan secara langsung pengumpulan Al-Qur’an dalam bentuk mushaf seperti itu.

Karena itu, Abu Bakar berhati-hati.

Namun Umar terus menjelaskan bahwa langkah tersebut bukanlah bid’ah dalam agama, melainkan bentuk ikhtiar menjaga wahyu Allah.

Akhirnya Allah melapangkan hati Abu Bakar untuk menerima usulan tersebut.

Dari sinilah proses pengumpulan Al-Qur’an dimulai.


📝 Mengapa Zaid bin Tsabit Dipilih?

Tugas besar itu kemudian diberikan kepada Sayyidina Zaid bin Tsabit.

Pilihan ini bukan tanpa alasan.

Zaid dikenal sebagai:

  • penulis wahyu Rasulullah ﷺ
  • penghafal Al-Qur’an
  • memiliki kecerdasan tinggi
  • masih berusia relatif muda
  • dikenal sangat amanah

Ketika pertama kali menerima tugas tersebut, Zaid bahkan mengaku merasa tugas itu sangat berat.

Dalam riwayat yang disebutkan dalam Shahih Bukhari, beliau mengatakan bahwa memindahkan gunung terasa lebih ringan daripada tugas mengumpulkan Al-Qur’an.

Kalimat ini menunjukkan betapa besar tanggung jawab yang dipikul oleh para sahabat.


📝 Pengumpulan yang Sangat Ketat

Proses pengumpulan Al-Qur’an dilakukan dengan sangat hati-hati.

Bukan hanya berdasarkan hafalan.

Tetapi juga berdasarkan catatan yang pernah ditulis di hadapan Rasulullah ﷺ.

Para sahabat melakukan verifikasi yang sangat ketat agar tidak ada satu ayat pun yang keliru.

Karena itu, tuduhan bahwa Al-Qur’an disusun secara sembarangan sebenarnya bertentangan dengan fakta sejarah yang tercatat dalam hadis-hadis shahih.

Justru proses pengumpulan Al-Qur’an merupakan salah satu contoh kehati-hatian luar biasa dalam sejarah peradaban manusia.


📝 Mengapa Materi Ini Penting di Zaman Sekarang?

Banyak orang hari ini membaca Al-Qur’an setiap hari.

Namun tidak banyak yang memahami bagaimana perjalanan panjang mushaf Al-Qur’an hingga sampai ke tangan kita.

Padahal pemahaman ini penting.

Karena semakin seseorang memahami sejarah penjagaan Al-Qur’an, semakin kuat pula keyakinannya terhadap keaslian kitab suci tersebut.

Di era media sosial, berbagai informasi sering beredar tanpa sumber yang jelas.

Bahkan tidak sedikit muncul keraguan dan tuduhan terhadap sejarah Islam.

Karena itu, mempelajari bab seperti Jam’ul Qur’an menjadi sangat relevan.

Bukan hanya untuk menambah wawasan.

Tetapi juga untuk memahami bagaimana para ulama dan sahabat menjaga amanah ilmu dengan penuh tanggung jawab.

___📌🔗 Baca juga: Apa Itu Sanad dalam Keilmuan Islam? Penjelasan Sederhana Gus Baha


📝 Al-Qur’an dan Pentingnya Sanad Ilmu

Salah satu pelajaran besar dari Bab Jam’ul Qur’an adalah pentingnya sanad.

Karena ilmu agama tidak lahir dari dugaan.

Tidak pula hanya berdasarkan pendapat pribadi.

Ilmu agama diwariskan melalui jalur yang jelas dari generasi ke generasi.

Hal inilah yang sering diingatkan Gus Baha dalam berbagai pengajiannya.

Bahwa agama tidak cukup dipelajari dari potongan video, kutipan media sosial, atau pencarian internet semata.

Ada proses keilmuan yang panjang di balik setiap pemahaman agama yang benar.

___📌🔗 Baca juga: Kenapa Belajar Agama Harus Punya Sanad? Ini Nasihat Gus Baha


📝 Keteladanan Para Sahabat dalam Menjaga Agama

Bab Jam’ul Qur’an juga menunjukkan satu hal yang sangat penting.

Bahwa para sahabat tidak hanya beriman kepada Al-Qur’an.

Mereka juga berjuang untuk menjaganya.

Mereka rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan nyawa demi menjaga agama ini tetap utuh.

Karena itu, ketika kita hari ini dengan mudah membuka mushaf Al-Qur’an, membaca terjemahan, atau mengakses kajian agama, sebenarnya ada perjuangan panjang para ulama dan generasi terdahulu yang memungkinkan semua itu terjadi.

Pemahaman seperti ini membuat seseorang lebih menghargai ilmu dan tidak mudah meremehkan proses belajar agama.

___📌🔗 Baca juga: Kenapa Belajar Agama Tidak Bisa Lepas dari Ulama? Gus Baha Pernah Mengingatkan Hal Ini


📶 Refleksi: Sudahkah Kita Menghargai Ilmu Agama?

Pertanyaan yang perlu direnungkan adalah:

  • apakah kita sudah bersungguh-sungguh belajar agama?
  • apakah kita menghargai perjuangan para ulama dan sahabat?
  • apakah kita masih merasa cukup belajar agama hanya dari potongan informasi di internet?

Karena semakin memahami sejarah Islam, seseorang biasanya justru semakin rendah hati.

Ia menyadari bahwa ilmu agama memiliki kedalaman yang sangat luas.

Dan bahwa para ulama terdahulu telah mengorbankan banyak hal demi menjaga ilmu itu sampai kepada kita.

___ 📌 👉 Baca juga: Ngaji Bareng Gus Baha di UII: Peluncuran Ulang Al-Qur’an dan Terjemahan Artinya


🌙 PENUTUP (HIKMAH)

Kajian Shahih Bukhari yang diasuh oleh Gus Baha bukan hanya menghadirkan penjelasan hadis. Lebih dari itu, kajian ini membantu kita memahami bagaimana Islam diwariskan melalui jalur ilmu yang terpercaya.

Pembahasan Bab Jam’ul Qur’an mengingatkan bahwa Al-Qur’an yang kita baca hari ini sampai kepada kita melalui perjuangan, ketelitian, dan amanah para sahabat Nabi ﷺ.

Karena itu, mempelajari sejarah penjagaan Al-Qur’an bukan sekadar mempelajari masa lalu. Tetapi juga belajar menghargai ilmu, menghormati sanad, dan menjaga agama dengan cara yang benar.

___ 📌 👉 Baca juga: Mengapa Malaikat Jibril Menyimak Bacaan Al-Qur’an Nabi Setiap Ramadan? (Materi Kajian Shahih Bukhari Gus Baha di Kudus 6 Juni)

Semoga Allah memudahkan kita untuk terus menghadiri majelis ilmu, mencintai Al-Qur’an, dan mengambil manfaat dari berbagai kajian para ulama. []


🔥 

Al-Qur’an yang kita baca hari ini tidak sampai kepada kita secara kebetulan. Ada perjuangan besar para sahabat yang menjaganya dengan penuh amanah.

📖 Lanjutkan membaca:

Kenapa Sanad Ilmu Itu Penting? Logika Gus Baha yang Mudah Dipahami

💬 Menurut Anda, mengapa memahami sejarah pengumpulan Al-Qur’an penting bagi umat Islam di era digital seperti sekarang?

Silakan tuliskan pendapat Anda di kolom komentar dengan tetap menjaga adab dan saling menghormati.


📤 Jika artikel ini bermanfaat, silakan bagikan kepada keluarga, sahabat, dan rekan-rekan pecinta ilmu agar semakin banyak yang memahami pentingnya sanad dan sejarah penjagaan Al-Qur’an.

🔗 Ikuti juga berbagai jadwal kajian, hikmah kehidupan, kajian Aswaja, dan pengajian Gus Baha lainnya hanya di Ngaji Virtual Gus Baha.

#JadwalNgajiGusBaha #ShahihBukhari #SanadIlmu #AswajaDanSanadIlmu #KajianIslamGusBaha #NgajiMenaraKudus #JamulQuran #GusBaha #HikmahKehidupan #BelajarAgamaDenganSanad

🏷️ Topik TerkaitKenapa Belajar Agama Tidak Bisa Lepas dari Ulama? Gus Baha Pernah Mengingatkan Hal Ini

WhatsApp Channel